ANALISIS PEREKONOMIAN
KABUPATEN JEMBER TAHUN 2012-2016
PEREKONOMIAN INDONESIA
Dosen Pembimbing : FAUZIYAH, M.M

Disusun oleh :
Hanunatun Nada Rona 17510101
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA
MALIK IBRAHIM MALANG
JURUSAN MANAJEMEN
2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
‘ANALISIS LAPORAN
KEUANGAN’ ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Dan juga kami berterima kasih pada Ibu FAUZIYAH, M.M selaku
Dosen mata kuliah PEREKONOMIAN INDONESIA yang telah
membimbing saya untuk memahami mata kuliah yang diampu.
Kami sangat berharap makalah ini dapat
berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai hubungan
antara negara, agama, dan pancasila. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat
dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun
ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya
kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan
kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah
ini di waktu yang akan datang.
Malang, 21 Maret 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................ II
DAFTAR ISI.......................................................................... III
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................... i
B. Rumusan Masalah..................................................... ii
C. Tujuan Penulisan....................................................... ii
BAB II PEMBAHASAN
A. gambaran umum
kabupaten jember...................................... 1
B. PDRB dan
pendapatan perkapita kabupaten Jember dari tahun 2012-2016 3
C. perubahan struktur ekonomi kabupater
Jember....................... 7
D. pertumbuhan
ekonomi kabupaten Jember.............................. 10
E. distribusi pendapatan
dan kemiskinan kabupaten Jember.......... 11
F. pembangunan
Ekonomi kabupaten Jember............................ 12
G. perkembangan
sektor pertanian kabupaten Jember................... 13
H. permasalahan
utama kondisi ekonomi kabupaten Jember dan solusinya 14
BAB III PENUTUP
Kesimpulan............................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA.................................................................. 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Kabupaten Jember merupakan salah
satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki potensi besar di bidang pengolahan
hasil pertanian. Bahkan Kabupaten Jember dicanangkan sebagai daerah agrobisnis. Jember juga merupakan wilayah yang
memproduksi hasil tani terbesar di Jawa timur. Dari sisni dapat dikatakan bahwa
kabupaten Jember4 adalah Kbaupaten agraris yang dimana, sumbangan terbesar dar
kabupaten ini dalam PDRB adalah sektor pertanian.
Maka dari itu, sangat perlu memperhatikan bagaimana
kondisi perekonomian di kabupaten jember ini. Karenanya dalam mendukung tujuan
tersebut dibuatlah analisi perekonomian daerah untuk kabupaten Jember ini. Dari
situlah dapat diketauhi apakah adanya peningkatan perekonomian di kabupaten
Jember atau pun penurunan. Dalam perekonomian kabupaten Jember juga tidak
terpisahkan dengan masalah yang terjadi di dalamnya sehingga adanya perubahan
dalam perekonomian Jember dan biasaya berdampak buruk. Dengan analisi inilah
dapat diketahui bagaimna solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut
sehingga perekonomian kabupaten jmeber terus meningkat sesuai yang diinginkan
kabupaten Jember
B. Rumusan
masalah
1. Bagaimana gambaran umum kabupaten
Jember ?
2. Bagaimana
PDRB dan pendapatan perkapita kabupaten Jember dari tahun 2012-2016 ?
3. Bagaimana
perubahan struktur ekonomi kabupater Jember ?
4. Bagaimana
pertumbuhan ekonomi kabupaten Jember ?
5. Bagaimana
distribusi pendapatan dan kemiskinan kabupaten Jember ?
6. Bagaimana
pembangunan Ekonomi kabupaten Jember ?
7. Bagimana
perkembangan sektor pertanian kabupaten Jember ?
8. Apakah
permasalahan utama kondisi ekonomi kabupaten Jember dan solusinya ?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui gambaran umum
kabupaten jember ?
2. Untuk
mengetahui PDRB dan pendapatan perkapita kabupaten jember dari tahun 2012-2016 ?
3. Untuk
mengetahui perubahan struktur ekonomi kabupater Jember ?
4. Untuk
mengetahui pertumbuhan ekonomi kabupaten Jember ?
5. Untuk
mengetahui distribusi pendapatan dan kemiskinan kabupaten Jember ?
6. Untuk
mengetahui pembangunan Ekonomi kabupaten Jember ?
7. Untuk
mengetahui perkembangan sektor pertanian kabupaten Jember ?
8. Untuk
mengetahui permasalahan utama kondisi ekonomi kabupaten Jember dan solusinya ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gambaran
Umum Kabupaten Jember
Batas Wilayah
|
||
Utara
|
:
|
Kabupaten Bondowoso dan sedikit Kabupaten Probolinggo
|
Timur
|
:
|
Kabupaten Banyuwangi
|
Selatan
|
:
|
Samudra Indonesia
|
Barat
|
:
|
Kabupaten Lumajang
|
Secara geografis Kabupaten Jember terletak
pada posisi 6027’29” s/d 7014’35” Bujur Timur dan 7059’6”
s/d 8033’56” Lintang Selatan berbentuk dataran ngarai yang subur
pada bagian Tengah dan Selatan, dikelilingi pegunungan yang memanjang sepanjang
batas.Utara dan Timur serta Samudra Indonesia sepanjang batas Selatan dengan
Pulau Nusabarong yang merupakan satu-satunya pulau yang ada di wilayah
Kabupaten Jember. Letaknya yang strategis karena berada dipersimpangan antara
Surabaya dan Bali, sehingga perkembangannya cukup pesat dan menjadi barometer
pertumbuhan ekonomi di kawasan Timur Jawa Timur. Secara administratif wilayah
Kabupaten Jember terbagi menjadi 31 kecamatan terdiri atas 28 kecamatan dengan
225 desa dan 3 kecamatan dengan 22 kelurahan. Kecamatan terluas adalah
Tempurejo dengan luas 524,46 Km2 atau 15,9% dari total luas wilayah Kabupaten
Jember. Kecamatan yang terkecil adalah Kaliwates, seluas 24,94 Km2 atau 0,76%.
Luas Wilayah
Hutan
|
:
|
121.039,61 ha
|
Perkampungan
|
:
|
31.877 ha
|
Sawah
|
:
|
86.568,18 ha
|
Tegal
|
:
|
43.522,84 ha
|
Perkebunan
|
:
|
34.590,46 ha
|
Tambak
|
:
|
368,66 ha
|
Rawa
|
:
|
35,62 ha
|
Semak/padang rumput
|
:
|
289,06 ha
|
Tanah rusak/tandus
|
:
|
1.469,26 ha
|
Lain-lain
|
:
|
9.583,26 ha
|
Berdasarkan data statistik hasil
registrasi tahun 2003, penduduk Kabupaten Jember mencapai 2.131.289 jiwa,
dengan kepadatan penduduk 647,15 jiwa/km, dengan sebagian besar penduduk berada
pada kelompok usia muda. Sehingga kondisi demografi yang demikian menunjukkan
bahwa potensi sumberdaya manusia yang dimiliki Kabupaten Jember cukup memadai
sebagai potensi penyedia dan penawar tenaga kerja di pasar kerja.
Kekayaan Alam
|
||
Young Quartenary
Vulcanic Product
|
:
|
130.240,43 ha
|
Miosen Sedimentary
Fasies
|
:
|
74.177,65 ha
|
Miosen Limentone
Fasies
|
:
|
10.571,88 ha
|
Allumunium
|
:
|
112.941,88 ha
|
Granite
|
:
|
1.402,50 ha
|
Potensi Bahan Galian
|
||
Batu gunung/vulkanik
|
:
|
terdapat di Kec. Pakusari dan Kec. Kalisat
|
Mangaan & batu gamping
|
:
|
terdapat di Kec. Puger dan Wuluhan
|
Tanah liat
|
:
|
terdapat di Kec. Ledokombo, Arjasa dan Rambipuji.
|
Batu kali/pasir
|
:
|
terdapat hampir di seluruh wilayah kecamatan.
|
Batu piring
|
:
|
terdapat di Kec. Kalisat dan Pakusari.
|
Berikut adalah peta kabupaten jember :
B.
Analisis
PDRB Dan Pendapatan Perkapita Kabupaten Jember
Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah barang dan jasa yang
dihasilkan dari seluruh kegiatan perekonomian di suatu daerah. Penghitungan PDRB menggunakan dua macam harga
yaitu harga berlaku dan harga konstan. PDRB atas harga berlaku merupakan nilai
tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada tahun
bersangkutan, sementara PDRB atas dasar harga konstan dihitung dengan
menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun dasar.
PDRB
atas dasar harga konstan menggambarkan tingkat pertumbuhan perekonomian suatu
daerah baik secara agregat maupun sektoral. Struktur perekonomian suatu daerah
dapat dilihat dari distribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap total nilai
PDRB atas dasar harga berlaku. Selain itu, pendapatan per kapita yang diperoleh
dari perbandingan PDRB atas dasar harga berlaku dengan jumlah penduduk pada
tahun bersangkutan dapat digunakan untuk membanding tingkat kemakmuran suatu
daerah dengan daerah lainnya. Perbandingan PDRB atas dasar harga berlaku
terhadap PDRB atas
dasar harga konstan dapat juga digunakan untuk melihat tingkat inflasi atau
deflasi yang terjadi. Selanjutnya
akan disajikan data 5 tahun terakhir data PDRB yang diupdet terbaru oleh BPS.
Diatas merupakan data PRDB
kabupaten Jember dalam 5 tahun terakhir berdasarkan lapangan usaha yang ada di
kabupaten Jember. Disini yang akan dianalisi adalah data PDRB dari tahun 2012
hingga tahun 2016 yaitu, mnunjukkan adanya fluktuasi setiap tahunnya dengan
didominasi oleh kenaikan PDRB pada setiap lapangan usaha di kabupaten Jember. Kenaikannya
pada setiap tahun mempunyai selisih yang cukup besar dan ini sangat berpengaruh
terhadap pembangunan ekonomi di kabupaten Jember. Selanjutnya adalah akan disajikan
data PDRB perkapita di kabupaten jember
Data PDRB perkapita ini didapatkan dari total nilai
PDRB yang dibagi dengan jumlah
penduduk pada pertengahan tahun. Penjelasan dari data
diatas adalah selama kurun waktu lima tahun terakhir, nilai PDRB per kapita
Kabupaten Jember selalu mengalami kenaikan. PDRB Perkapita Kabupaten Jember;
tahun 2011 sebesar Rp. 15.792.220,-; tahun 2012 sebesar Rp. 17.465.150.-; tahun
2013 sebesar Rp. 18.919.770.-; tahun 2014 sebesar Rp. 21.131.680.-; tahun 2015
sebesar Rp. 23.421.140.- dan tahun 2016 sebesar Rp. 25.824.740.atau meningkat
10,26 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut bisa dilihat
secara spesifik pada diagram berikut.
C. Analisis Perubahan Struktur Ekonomi Kabupaten
Jember
Struktur ekonomi di kabupaten jember didominasi lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan; Industri Pengolahan dan Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil
dan Motor. Ketiga lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi sebesar 62,64
persen pada tahun 2016. Selama 2012-2016 kontribusi Pada tahun 2016, Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan memberikan kontribusi sebesar 30,25 persen terhadap
PDRB Kabupaten Jember, sedikit menurun dibanding tahun 2015 yang sebesar 30,66
persen. Di bawah ini akan disajikan diagram Distribusi PersentaseRiil
PDRB(persen)
Dapat dilihat dari diagram diatas adalah Lapangan
Usaha Pertambangan dan Penggalian setiap tahunnya mengalami trend penurunan
kontribusi yang cukup signifikan dibanding lapangan usaha lainnya. Pada tahun
2016 kontribusi Pertambangan dan Penggalian sebesar4,47 persen. Lalu, lapangan
usaha Industri Pengolahan memberikan kontribusi sebesar 19,46 persen terhadap
PDRB Kabupaten Jember, sedikit menurun dibanding tahun 2015 yang sebesar 19,86
persen. Struktur terbesar PDRB Industri Pengolahan didominasi oleh Subkategori
Karet, Barang dari karet dan plastik dan Industri Makanan dan Minuman
masing-masing sebesar 7,70 persen dan 6,60 persen, diikuti Subkategori Industri
Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan
Sejenisnya sebesar 1,84 persen dan
Subkategori Industri pengolahan tembakau sebesar 1,14 persen. Sementara itu,
subkategori lainnya memberikan kontribusi di bawah 1 persen. Pada tahun 2011
kontribusinya sebesar 6,46 persen; dan terus meningkat sehingga
menjadi7,56persen pada tahun 2016.
Fluktuasi yang terjadi pada kontribusi Perdagangan
Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sejalan dengan produksi
barang domestik dan impor sehingga besar PDRB nya terakhir yaitu meningkat pada
tahun 2015-2016 menjadi 12,59 persen dan 12,94 persen. Lapangan Usaha
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum terhadap PDRB terus meningkat hingga 2,25
persen pada tahun 2016. Kontribusi lapangan usaha lainnya dalam PDRB Jember
yaitu Informasi dan Komunikasi sebesar 6,05 persen; Transportasi dan
Pergudangan sebesar 1,64 persen; Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 2,38
persen; Jasa Pendidikan sebesar 5,80 persen; Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 3,52 persen; Real Estat sebesar
1,41 persen; Jasa Lainnya sebesar 1,10 persen; Jasa Perusahaan sebesar 0,35
persen; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 0,74 persen; Pengadaan
Listrik dan Gas sebesar 0,04 persen; serta Pengadaan Air, Pengelolan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang sebesar 0,06 persen.
D. Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten
Jember
Dari data diatas dapat simpulkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Jember tahun 2016 sebesar 5,21 persen, sedikit melambat dibanding pertumbuhan
ekonomi tahun 2015 yang mencapai 5,36 persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha penyediaan
Akomodasi dan makan minum sebesar 9,35 persen. Disusul lapangan usaha Informasi
dan komunikasi sebesar 8,45 persen dan lapangan usahaJasa Kesehatan dan
Kegiatan Sosialsebesar7,25persen. Adapun lapangan usaha lainnya yang mengalami
pertumbuhan paling rendah adalah kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
yang hanya tumbuh sebesar 3,57 persen, dibanding tahun sebelumnya juga tumbuh
melambat sebesar 3,99 persen. Pada tahun 2016, produksi padi baik padi sawah
maupun padi ladang sedikit mengalami penurunan dari 1.005 kilo ton pada tahun
2015 menjadi 987 kilo ton pada tahun 2016.
Dari gambar di atas tampak, bahwa tahun 2013-2014
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember mulai menunjukkan peningkatan dari kisaran
5 persen menjadi kisaran 6 persen, namun pada
tahun 2015 terjadi sedikit perlambatan ekonomi Jember sehingga tetap
tumbuh sebesar 5,36 persen. Hal ini diduga disamping kondisi ekonomi global
yang belum membaik, juga disebabkan oleh berbagai kebijakan pemerintah yang
kurang kondusif bagi dunia usaha. Sementara faktor cuaca ekstrim sepanjang
tahun 2016 dan beberapa wilayah terserang hama wereng mempengaruhi produksi
pertanian Kabupaten Jember sehingga pada tahun 2016 hanya mampu tumbuh 5,21
persen.
E.
Analisis Distribusi
Pendapatan Dan Kemiskinan Kabupaten
Jember
Masalah fundamental yang dihadapi oleh pemerintah
Kabupaten Jember adalah kemiskinan dan ketimpangan, di mana ada kecenderungan
bahwa ketimpangan ini meningkat sepanjang waktu. Ada daerah yang relatif maju
yaitu Kecamatan Kaliwates, Sumbersari, Patrang dan ada daerah yang relatif
tertinggal yaitu Kecamatan Kencong, Gumukmas, Silo, Umbulsari, Panti, Sukowono,
Kalisat, Jenggawah, Semboro, Tempurejo, Ajung, Ledokombo, Arjasa, Sumberjambe,
Jombang, Mayang, Mumbulsari, Sukorambi, Pakusari dan Jelbuk. Peningkatan
ketimpangan ini disebabkan oleh perbedaan potensi sumber daya alam maupun
sumber daya manusia serta pola pembangunan yang berbeda antar daerah.
Indeks kedalaman kemiskinan naik dari 1,11 pada tahun
2014 menjadi 1,58 pada tahun 2015, sedangkan indeks keparahan kemiskinan juga
naik dari 0,20 pada tahun 2014 menjadi 0,33 pada tahun 2015. Dalam mengukur
kemiskinan itu, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar
(basic needs approach) dan dengan pendekatan itu, kemiskinan dipandang sebagai
ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan
bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Yang masuk dalam kategori
penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita
perbulan dan pada tahun 2015 sebesar Rp283.510 dinyatakan sebagai warga miskin.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember mencatat jumlah
penduduk miskin di wilayah setempat mengalami penurunan yakni pada tahun 2015
sebanyak 269.540 jiwa dan angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2014
sebanyak 270.400 jiwa.Berdasarkan survei sosial ekonomi nasional (susenas)
tercatat jumlah penduduk miskin secara makro di Jember tahun 2015 turun sebesar
0,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil Susenas tercatat jumlah penduduk
dibawah garis kemiskinan di Jember pada tahun 2010 sebanyak 311.800 jiwa, tahun
2011 sebanyak 292.100 jiwa, tahun 2012 sebanyak 277.000 jiwa, tahun 2013
sebanyak 278.500 jiwa, tahun 2014 sebanyak 270.400 jiwa dan tahun 2015 sebanyak
269.540 jiwa. Kalau berdasarkan prosentase
tercatat penduduk miskin tahun 2010 sebesar 13,27 persen, tahun 2011 (12,44
persen), tahun 2012 (11,76 persen), tahun 2013 (11,68 persen), tahun 2014
(11,28 persen), dan tahun 2015 sebesar 11,22 persen. Persoalan kemiskinan bukan
hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin, namun dimensi lain
yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.
F.
Pembangunan ekonomi Kabupaten Jember
Pembangunan ekonomi dipandang sebagai kenaikan dalam
pendapatan perkapita dan lajunya pembangunan ekonomi ditunjukkan dengan
menggunakan tingkat pertumbuhan PDB untuk tingkat nasional dan PDRB untuk
tingkat wilayah. Definisi pembangunan tidak dapat dipisahkan dengan pengertian
pembangunan ekonomi, karena pada dasarnya baik tujuan pembangunan maupun
pembangunan ekonomi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bedanya, pembangunan ekonomi hanya meliputi usaha suatu masyarakat untuk
mengembangkan kegiatan ekonomi dan mempertinggi tingkat pendapatan masyarakat,sedangkan
pembangunan itu dalam pengertian yang paling mendasar harus mencakup masalah
materi dan finansial dalam kehidupan masyarakat.
Karena perekonomian Jember pada umumnya berbasis pada
pertanian, maka pemeliharaan dan pengelolaan sumber daya alam menjadi hal yang
mutlak dan penting sehingga diharapkan pembangunan ekonomi yang dilaksanakan
berorentasi pada pembangunan yang berwawasan
lingkungan. Suatu bentuk
dari pembangunan yang berkelanjutan atau
"sustainable development" yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan
generasi sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan datang untuk
memenuhi kebutuhannya. Kabupaten Jember dapat diklasifikasikan sebagai daerah
yang menganut type agraris dan salah satu lumbung padi Propinsi Jawa Timur.
Metode SS, Pertumbuhan
Ekonomi Kabupaten Jember pada tahun 2013 yang cukup impresif, akhirnya
mampu menyalip pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur dengan yang
mencapai 6,63%. Pertumbuhan ekonomi ini lebih tinggi dibandingkan dengan
pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur yang mencapai 6,55%. Menurut Bupati
pada tahun 2013 ini struktur ekonomi dari kinerja ekonomi tersebut, masih
didominasi oleh tiga sektor utama, yakni sektor pertanian (35,49%), sektor
perdagangan, hotel dan restaurant (26,60%), dan sektor industri pengolahan
(11,06%). Ketiga sektor itu memberikan kontribusi mencapai 73,15%.
Jember juga mengalami percepatan beberapa sektor yang memberikan sumbangan
yang cukup signifikan. Sektor-sektor yang mengalami percepatan pertumbuhan tertinggi
adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai 11,68%. Sedangkan
sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 9,36%, dan sektor
konstruksi sebesar 8,64%. Sedangkan percepatan pertumbuhan terendah terjadi
pada sektor pertanian sebesar 4,5% persen, serta sektor pertambangan dan
Penggalian sebesar 4,21%.
G. Analisi perkembangan sektor pertanian Kabupaten
Jember
Sektor ini membunyai sub sektor tanaman bahan makanan
dan tanaman perkebunan. Pada sub sektor tanaman bahan makanan mencakup komoditi tanaman bahan
makanan yaitu padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang
kedelai, umbi-umbian, sayursayuran, buah-buahan, kentang, kacang hijau, tanaman
pangan lainnya dan hasil-hasil produksi ikutannya. Termasuk dalam cakupan ini
adalah hasil-hasil dari pengolahan yang dilakukan secara sederhana seperti
beras tumbuk, dan gaplek yang dilakukan oleh petani.
Nilai tambah bruto atas dasar harga yang berlaku
diperoleh melalui pendekatan produksi yaitu dengan mengalikan terlebih dahulu
setiap jenis kuantum produksi dengan masing-masing harganya, kemudian hasilnya
dikurangi dengan biaya antara atas dasar harga yang berlaku. Biaya antara
tersebut diperoleh dengan menggunakan ratio biaya antara terhadap output hasil
Survei Khusus Pendapatan Regional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik
Kabupaten Jember. Sedangkan nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 dihitung
dengan cara revaluasi yaitu mengalikan kuantum produksi pada masing-masing
tahun dengan harga pada tahun 2000, kemudian dikurangi dengan biaya antara atas
dasar harga konstan 2000.
Pada sub sektor perkebunan komoditi yang dicakup
adalah hasil tanaman perkebunan yang diusahakan seperti kelapa/kopra, jambu
mente, teh, kopi, karet, coklat, kapok randu, kapok, tebu, tembakau, cengkeh,
lada, jarak, kapas, tanaman obat-obatan dan tanaman perkebunan lainnya,
termasuk produk ikutannya. Nilai tambah atas dasar harga berlaku dihitung
dengan cara pendekatan produksi. Ratio biaya antara serta rasio margin
perdagangan dan biaya transport diperoleh dari Survei Khusus Pendapatan
Regional Nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara
revaluasi.
H. Permasalahan utama kondisi ekonomi dan solusinya Kabupaten Jember
Permasalahan
utama adalah penyimpangan serta penyelewengan yang dilakukan oleh oknum tidak
bertanggung jawab. Terbukti, banyak pejabat yang terseret kasus korupsi dan
penyelewengan anggaran daerah. Permasalahan di atas hanyalah salah satu masalah
yang terjadi di Kabupaten Jember. Belum lagi masalah pengelolaan tempat wisata
yang berpotensi di Jember yang apabila dikembangkan akan mendatangkan
pendapatan bagi daerah dan masyarakat sekitar, yang masih belum maksimal.
Pemerintah belum memperhatikan sektor ini. Masalah perpolitikan dan birokrasi
juga masih banyak terjadi seperti birokrasi pencairan sertifikasi guru yang
cenderung dipersulit. Padahal guru adalah pendidik yang perlu dihargai, namun
malah disengsarakan.
Kepala
daerah yang memiliki pemikiran maju akan berusaha untuk mengembangkan potensi
yang dimiliki daerah seoptimal mungkin agar dapat tergali dan mampu memberikan
sumbangan kepada daerah. Dan memang otonomi daerah memfasilitasi hal tersebut.
Otonomi daerah memberikan peluang tiap daerah untuk mengembangkan diri
seluas-luasnya demi kemakmuran daerah masing-masing. Termasuk dalam
memanfaatkan gelombang globalisasi yang datang menyerbu Indonesia. Membaiknya perekonomian global didukung oleh stabilnya kondisi
perekonomian domestic serta terkendalinya inflasi, berpengaruh signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jember. Membaiknya pertumbuhan
ekonomi di Kabupaten Jember ini, dikarenakan percepatan pertumbuhan di semua
sektor, khususnya perdagangan, hotel dan restoran 10,66%, serta sektor
pengangkutan dan komunikasi 9,93% dan sektor jasa sebesar 8,87%.
Namun diakui juga, indikator laju inflasi di Kabupaten
Jember menunjukan kecenderungan menurun sejak tahun 2008-2011. Dari
11,10% di tahun 2008 menjadi 4,93% pada tahun 2011. Tidak itu saja,
dibandingkan trend pendapatan per kapita 11,74%, rata-rata pertambahan
pendapatan masyarakat Jember lebih tinggi dari rata-rata tingkat kenaikan harga
yang berlaku. Dari aspek indikator makro social, yakni indeks pembangunan
manusia (IPM) tahun 208-2012, mengalami peningkatan dari 63,71 berubah menjadi
65,93%. Hal ini dipengaruhi oleh tiga indikator IPM, diantaranya adalah
pendididikan, kesehatan juga daya beli masyarakat.
Komitmen pemerintah Kabupaten Jember terhadap rencana
pembangunan jangka menengah daerah (RJPMD) merupakan wujud kecintaan kepada
masyarakatnya. Selama ini telah diperankan oleh pemerintah daerah bersama-sama
seluruh elemen masyarakat. Semua itu untuk mencapai arah kebijakan
pembangunan, sesuai visi misi, sasaran dan tujuan seperti tertuang di RPJMD. Peningkatan seluruh
capaian kinerja pemerintah daerah tahun 2012, adalah untuk merealisasikan visi
terwujudnya masyarakat Jember yang kreatif, sejahtera, agamis dan bermartabat.
Semua itu bisa terwujud, berkat adanya dukungan dari seluruh stakeholder,
khususnya masyarakat, yang dilandasi kemauan dan semangat kerja tinggi guna
perbaikan nasib agar menjadi lebih baik.
BAB III
KESIMPULAN
Secara administratif wilayah
Kabupaten Jember terbagi menjadi 31 kecamatan terdiri atas 28 kecamatan dengan
225 desa dan 3 kecamatan dengan 22 kelurahan. Kecamatan terluas adalah
Tempurejo dengan luas 524,46 Km2 atau 15,9% dari total luas wilayah Kabupaten
Jember. Kecamatan yang terkecil adalah Kaliwates, seluas 24,94 Km2 atau 0,76%. Perkembangan
perekonomian di Kabupaten Jember dapat dilihat pada indikator besaran product
domestic regional bruto (PDRB). Kontribusi terbesar dalam membentuk PDRB Kabupaten
Jember pada tahun 2012 - 2016 adalah sektor pertanian, yang secara meyakinkan
menyumbang presentase terbesar berturut-turut
dari total PDRB. Keberhasilan sektor ini tidak terlepas dari potensi
alam dan lahan yang subur yang telah menjadikan Jember sebagai lumbung padi di
Jawa Timur.
Permasalahn utama dari penurunan perekonomian indonesia adalah adanya
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam sistem pemerintahan kabupaten
jember yaitu elite-elite politik dengan cara mengkorupsi apa yang seharusnya
menjadi hak rakyat. Solusi yang ditemukan adalah adanya kerjasama yaang baik
dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan cara yang benar dan sesuai dengan
dasar negara Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Jember
Menurut lapangan Usaha 2012-2016. 2017-08-10. Nomor katalog : 9302008.350. Nomor Publikasi : 35096.1703. 2017-08-10
produk Domestik Regional
bruto kabupaten jember tahun 2012. 2013. Nomor Publikasi : 35095.1302 Katalog BPS : 9302005.3509. Badan
Pusat Statistik Kabupaten Jember Tahun 2013.
Analisis perencanaan pembangunan dalam upaya pengurangan ketimpangan
ekonomi di kabupaten jember tahun 2006-2011. https://id.123dok.com/document/nq7rn4oy-analisis-perencanaan-pembangunan-dalam-upaya-pengurangan-ketimpangan-ekonomi-di-kabupaten-jember-tahun-2006-2011.html
http://eprints.umm.ac.id/26809/2/jiptummpp-gdl-daviekopra-34395-2-babi.pdf
Comments
Post a Comment